Skip to main content

celotehan indahku

Tahukah kamu, Apa yang waktu perbuat?
......waktu dapat menenggelamkanmu begitu dalam. Ia dapat membuatmu berada di dalam kebingungan yang sulit dijelaskan. Waktu mampu membuatmu berkelana jauh, hingga tidak bisa membedakan mana mimpi dan kenyataan. Ia juga mampu membuatmu tidak bisa mendengar panggilan Sang Fajar....
      Itulah waktu.


Dan hujan pun turun. 
Semuanya menjadi dingin,sunyi, dan senyap. Dalam canda tawa yang riang memecahkan keheningan hujan.Dilain sisi api membakar lilin lilin dengan sangat tidak ramah, membuat atmosfer menjadi panas, bukan hangat. Merebut jiwa yang riang dan mengahantui kehidupannya. Akhirnya jiwa yang suram harus bersembunyi dibalik wajah bahagia.



 
    Pelukis punya dunia sendiri. Dunia yang sebenarnya sederhana tapi rumit dimata orang lain. Para pelukis juga memiliki seni sastra yang tinggi. Hampir ssetiap ungkapannya mengandung kata kiasan. Setiap goresan kuasnya mempunyai makna yang dalam. Namun terkadang Ia bisa terpengaruh dalam arung imajinasinya. Kegiatannya memang satu, hanya melukis, namun darisitu Ia belajar arti kesabaran, ketelitian,keindahan,logika, matematika, kerja keras, dan masih banyak lagi. Seorang pelukis sejati bukan menunggu inspirasi tetapi mencari inspirasi.






"Amazing adventures can make you can fly although without the perfect wings, but only with ur best friend"
        











 Persahabatan itu seperti pensil warna yang selalu memberikan warna berbeda di setiap lembaran hari, namun ada juga perbedaannya. Pensil warna suatu saat akan habis, tapi persahabatan itu akan abadi selamanya.






"Emas dan permata bukanlah harta sesungguhnya. Emas dan permata dapat musnah. Tapi persahabatan akan abadi untuk selamanya."
            _Tinker Bell_


 



Comments

Popular posts from this blog

Essay : PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR

PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR Oleh : De-Gaharu   Bagaimana gambaran realitas anak bangsa di negeri kita ? Tentu saja tidak semua anak muda melakukan tindakan yang meyimpang dari standar moral, banyak juga yang mengukir prestasi. Namun, berbagai media informasi baik elektronik maupun cetak sering menyiarkan berita negatif anak bangsa kita. Apa yang terjadi dengan generasi-generasi bangsa ini ? seperti yang diungkapan oleh Kak Hendri dalam bukunya (Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng, 2013:10) “Dimana peran dan pengaruh pendidikan sebagai jalan untuk menciptakan bangsa yang lebih bermartabat ? apa hal ini membuktikan bahwa pendidikan kita belum berhasil dalam mencetak generasi bangsa yang cerdas, kreatif, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ?. Bukankah ketika di sekolah mereka sudah menerima pelajaran tentang moral, pengetahuan umum, dan pengembangan diri ? lantas mengapa tidak bisa mereka terapkan di lingkungan sehari-hari ?. Ini menjadi PR bagi pa

KITA NGGAK HARUS MONOKROM

KITA NGGAK HARUS MONOKROM  Jalani hidup apa adanya, ada banyak warna untuk kita pilih             Oke, kali ini aku mau cerita tentang kisah hidup aku yang nggak banyak orang tahu, karena memang belum pernah aku ceritakan di mana pun secara lengkap meskipun aku Social Media Addict, jadi ini adalah perdana. Kata orang, kalau dengar nama ‘Dega’ ya itu nama panggilan aku, selalu identik dengan warna-warni, nyeni banget, nyentrik, aneh, terlalu sok sibuk, suka belajar, dan sebagainya yang kedengaran hectic banget hahaha.  Ini yang aku rasain sebagai diri aku, aku suka warna-warni itu benar, art enthusiast banget, suka hal-hal yang membuat ceria that’s why aku suka warna kuning seperti bunga matahari. Bukan unsur kebetulan, jadi memang ini adalah jalan yang aku suka, jalan hidup apa adanya, tanpa syarat ketentuan dari orang lain. Maksud dari kalimat kita nggak harus monokrom di sini adalah monokrom itu berarti seragam, dan aku bukan tipe orang yang suka sama, karena me

Puisi : Manik-Manik Mawinei

Manik-Manik Mawinei Oleh : De-gaharu   Matahari menyapa pagi Borneo Menyipit memandangi rupa Rupa dakukah ? Oh, apakah Ia bidadari, Tuhan ? Ya, bidadari khatulistiwa jarnya Melodi meramban di Kou Dari lantunan lagu yang kau senandungkan Dan sampek yang kau petik Hening damai suara liar Borneo Akan semakin sayup ketika melangkah jauh Tapi akar semakin mencengkram langkahku Benci bukan saja mendarah daging Beranak pinak Bahkah akar hingga buah menujuru padaku Kulepaskan dengan berat Kedua bola mata itu masih membekas   Meninggalkan untaian kata tak terukir di genggamanku         Kusebut ini manik-manik Mawinei                                                                                 Merah, kuning, hijau, biru Lebih elok dari sakura-sakura Percayalah   Tanyakan pada sakura yang jatuh di tiap helai rambutmu Suatu saat nanti, jika Tuhan masih mendetakanku Dan Jika leluhurmu mengijinkanku kembali