Skip to main content

Tentang Lucy Maud Montgomery dan Karya-karyanya

      Hai... kali ini aku mau memperkenalkan salah satu penulis favoritku. Remaja seumuranku mungkin lebih senang membaca novel teenlit, tapi sepertinya aku berbeda dari yang lain, entahlah apa penyebabnya. Tak banyak yang tau kalau aku pencinta novel klasik dan buku-buku kuno. Nah, karena itu sekaligus aku posting penggalan-penggalan novel dari Lucy M. Montgomery.

About Lucy M.Montgomery


            Lucy M.Montgomery lahir di Clifton (sekarang New London), Pulau Prince Edward, pada 30 November 1874. Ibunya, Clara Woolner Macneill Montgomery meninggal karena TBC ketika Lucy berusia 21 bulan. Ayahnya, Hugh John Montgomery, pergi meninggalkan daerah asalnya, menuju teritorial Barat Kanada. Lucy tinggal bersama kakek dan neneknya dari pihak ibu, Alexander Marquis Macneill  dan Lucy Woolner Macneill. Dia dibesarkan dalam aturan yang sangat ketat. Setelah lulus dari Universitas Dalhouise di Halifax, Nova Scotia, dalam bidang literature, dia mengajar di beberapa sekolah. Dan kemudian, pada 1898 dia kembali untuk tinggal bersama neneknya yang telah menjanda. Pengalamannya memberi inspirasi untuk menulis buku pertamanya ini, Anne Of Green Gables, pada 1908. Selain itu, dia juga menulis beberapa buku lain, diantaranya lanjutan kisah Anne si gadis kecil berambut merah ini.

“Oh, aku menyukai berhubungan dengan segala sesuatu, bahkan jika mereka hanya tanaman geranium. Hal itu membuat mereka lebih mirip manusia. Bagaimana anda bisa tahu bahwa perasaan geranium terluka karena dia hanya disebut geranium dan bukan dengan suatu nama ? anda tak akan menyukai dipanggil dengan sebutan ‘perempuan’ sepanjang waktu. Ya, aku akan memanggilnya Bonny.”

“Hidupku adalah sebuah lahan pemakaman sempurna untuk harapan-harapan yang terkubur.”

“Bukankah camar-camar itu mengaggumkan ? apakah anda ingin menjadi camar ? kupikir aku ingin __ jika saja aku bukan seorang gadis kecil. Bukankah menyenangkan untuk bangun saat fajar menjelang, menyelam ke dalam air, lalu keluar menuju angkasa biru indah itu sepanjang hari. Kemudian pada malam hari terbang kembali ke salah satu sarang ? oh, aku bisa membayangkan diriku sendiri melakukannya.”
#Anne Of Green Gables

 
“Aku selalu merasa sangat puas di hutan,” kata Gadis Dongeng menerawang, saat kami berbelok di bawah dahan-dahan cemara yang berayun-ayun rendah.
“Pohon-pohon sepertinya makhluk yang sangat ramah.”
“Anak sungai.” Kata Paman Blair, “adalah makhluk yang paling berubah-ubah, memikat, dan menyenangkan di dunia. Pikiran dan suasana hatinya tak pernah sama. Disini Ia mendesah dan bergumam, seoalah-olah patah hati. Tapi dengar _ di dekat pohon-pohon Birch disana Ia tertawa seoalah-olah meikmati lelucon yang sempurna.
Paman Blair adalah satu-satunya pria yang kukenal yang bisa, ketika dia menghendaki, “berbicara seperti buku” dan melakukannya tanpa terlihat konyol. Mungkin itu karena dia menguasai seni memilih “pendengar yang sesuai meskipun sedikit” dan waktu yang tepat untuk memikat pendengarnya.

“Aku sangat menyukai jalan kereta api karena kita selalu bisa membayangkan apa yang ada diujungnya.”


#Story Girl
 
Malam Desember yang Indah ! udara pagi hari yang menusuk sudah melembut dan menjadi sehangat musim gugur. Tidak ada salju dan ladang-ladang memanjang, yang melandai dari rumah, tampak cokelat dan lembut. Ketenangan aneh yang indah telah turun ke atas tanah ungu, hutan cemara gelap, batas-batas lembah dan padang rumput yang layu. Alam seperti melipat tangannya untuk beristirahat, tahu bahwa tidur musim dinginnya yang panjang sudah menjelang.
Ada kunang-kunang berkeliaran malam itu, yang menambah keajaibannya. Tidak diragukan ada sesuatu yang gaib mengenai kunang-kunang. Tak seorang pun berpura-pura memahami mereka. Mereka saudara para peri, warisan masa silam ketika hutan dan bukit dihuni kurcaci hijau. Sangatlah mudah mempercayai peri ketika kau melihat lentera-lentera Goblin itu berkelap-kelip diantara daun-daun cemara.

#Novel the golden road cerita sepanjang musim.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Essay : PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR

PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR Oleh : De-Gaharu   Bagaimana gambaran realitas anak bangsa di negeri kita ? Tentu saja tidak semua anak muda melakukan tindakan yang meyimpang dari standar moral, banyak juga yang mengukir prestasi. Namun, berbagai media informasi baik elektronik maupun cetak sering menyiarkan berita negatif anak bangsa kita. Apa yang terjadi dengan generasi-generasi bangsa ini ? seperti yang diungkapan oleh Kak Hendri dalam bukunya (Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng, 2013:10) “Dimana peran dan pengaruh pendidikan sebagai jalan untuk menciptakan bangsa yang lebih bermartabat ? apa hal ini membuktikan bahwa pendidikan kita belum berhasil dalam mencetak generasi bangsa yang cerdas, kreatif, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ?. Bukankah ketika di sekolah mereka sudah menerima pelajaran tentang moral, pengetahuan umum, dan pengembangan diri ? lantas mengapa tidak bisa mereka terapkan di lingkungan sehari-hari ?. Ini menjadi PR bagi pa

KITA NGGAK HARUS MONOKROM

KITA NGGAK HARUS MONOKROM  Jalani hidup apa adanya, ada banyak warna untuk kita pilih             Oke, kali ini aku mau cerita tentang kisah hidup aku yang nggak banyak orang tahu, karena memang belum pernah aku ceritakan di mana pun secara lengkap meskipun aku Social Media Addict, jadi ini adalah perdana. Kata orang, kalau dengar nama ‘Dega’ ya itu nama panggilan aku, selalu identik dengan warna-warni, nyeni banget, nyentrik, aneh, terlalu sok sibuk, suka belajar, dan sebagainya yang kedengaran hectic banget hahaha.  Ini yang aku rasain sebagai diri aku, aku suka warna-warni itu benar, art enthusiast banget, suka hal-hal yang membuat ceria that’s why aku suka warna kuning seperti bunga matahari. Bukan unsur kebetulan, jadi memang ini adalah jalan yang aku suka, jalan hidup apa adanya, tanpa syarat ketentuan dari orang lain. Maksud dari kalimat kita nggak harus monokrom di sini adalah monokrom itu berarti seragam, dan aku bukan tipe orang yang suka sama, karena me

Puisi : Manik-Manik Mawinei

Manik-Manik Mawinei Oleh : De-gaharu   Matahari menyapa pagi Borneo Menyipit memandangi rupa Rupa dakukah ? Oh, apakah Ia bidadari, Tuhan ? Ya, bidadari khatulistiwa jarnya Melodi meramban di Kou Dari lantunan lagu yang kau senandungkan Dan sampek yang kau petik Hening damai suara liar Borneo Akan semakin sayup ketika melangkah jauh Tapi akar semakin mencengkram langkahku Benci bukan saja mendarah daging Beranak pinak Bahkah akar hingga buah menujuru padaku Kulepaskan dengan berat Kedua bola mata itu masih membekas   Meninggalkan untaian kata tak terukir di genggamanku         Kusebut ini manik-manik Mawinei                                                                                 Merah, kuning, hijau, biru Lebih elok dari sakura-sakura Percayalah   Tanyakan pada sakura yang jatuh di tiap helai rambutmu Suatu saat nanti, jika Tuhan masih mendetakanku Dan Jika leluhurmu mengijinkanku kembali