Skip to main content

Surganya Para Pecinta Buku Klasik









KUPAS LEBIH JAUH TENTANG SHAKESPEARE AND COMPANY

Toko buku “Shakespeare & Company” berlokasi di Paris, Perancis Yang berada dekat dengan Place Saint Michel, hanya beberapa langkah dari Notre Dame dan sungai Siene. Toko buku ini didirikan pada tahun 1919 oleh Sylvia Beach. Baru setahun berdiri, toko buku ini langsung menarik perhatian masyarakat dan menjadi favorit banyak orang, khususnya oleh para penulis. Penulis dan seniman dari “Generasi Yang Hilang” seperti Ezra Pound, Ernest Hemingway, Scott Fitzgerald, George Antheil, Man Ray, William S Burroughs, James Joyce dan Ford Madox kerap menjadikan toko buku ini sebagai ‘markas’ mereka untuk menulis, membaca buku, maupun berdiskusi, yang djuluki "Stratford-on-Odéon" oleh James Joyce, yang menggunakan Shakespeare and Company sebagai kantornya. Banyak buku antik yang bisa ditemukan disini, yang pada tahun-tahun tertentu dihentikan peredarannya karena menimbulkan kontroversi, seperti Lady Chatterley’s Lover larya D.H Lawrence yang dilarang di Inggris dan Amerika. Intinya seperti a heaven for writers.
Selain memiliki desain interior yang menarik hati, Shakespeare and Company juga menawarkan aneka jenis buku yang sangat beragam. Toko buku ini juga dikenal sebagai rujukan terbaik dunia dalam buku-buku di bidang sastra yang berbahasa Inggris. Tempat ini punya sesuatu yang spesial, kita bisa melihat tumpukan buku dari lantai hingga langit-langit. Selain itu, di lantai dua terdapat perpustakaan pribadi. Toko buku bersejarah ini sekarang memiliki beberapa fasilitas, seperti tempat tidur untuk yang suka menghabiskan waktunya di toko buku daripada dirumah, yang berjumlah 13 tempat tidur yang berada dibeberapa sudut toko buku, Whitman berkata bahwa setidaknya ada 40,000 orang yang tidur di toko bukunya hingga saat ini. Juga piano yang ada dilantai dua. Fakta terbaru nya ialah tempat yang luar biasa ini merupakan salah satu latar tempat film 99 Cahaya di langit Eropa.
Namun, tempat ini sempat ditutup saat Perang Dunia II tengah bergulir pada tanggal 14 Juni 1940 ketika adanya invansi Jerman ke Prancis. Shakespeare and Company lantas dibuka kembali pada tahun 1951 untuk masyarakat umum.

Mau tau sejarah tentang SHAKESPEARE AND COMPANY ?
Sekitar tahun 1920an, Ernest Hemingway menimba ilmu dengan mentornya Ezra Pound di daerah Rue de l’Odeon, Paris, dan menyelesaikan bukunya yang berjudul Three Stories and Ten Poem (1923), berkat bantuan Sylvia pemilik bangunan yang seperti rumahnya sendiri itu.  



             Dan seperti inilah keadaan Shakespeare and Company, toko buku yang juga sebuah perpustakaan, dulunya terletak di celah sempit di daerah Rue Dupuytren, yang setelah dua tahun dipindahkan. Mereka yang dijuluki The Lost generation atau Generasi yang hilang. Si Hemingwaylah yang memimpin mereka. Bertahun-tahun bersama-sama menciptakan karya sastra masterpiece. Hingga, tidak ada lagi yang tidak mengenal nama mereka pada zaman itu.
            Mereka lah yang kini menjadi pioneer Gerakan Modern Paris. Membawa angin segar untuk kehidupan sastra di Benua Eropa atau di seluruh penjuru dunia. Namun, banyak percakapan mereka yang ternyata ada benarnya juga, tentang perang dunia. Karena dua puluh tahun kemudian, toko ini harus ditutup karena pecahnya Perang Dunia Kedua.
            Hingga seorang pemuda bernama George Whitman, yang mendedikasikan dirinya pada bidang sastra membuka kembali toko buku itu. meneruskannya hingga berpuluh, puluh tahun kemudian. Hingga toko favorit para penyair ini menjadi ikon kota mereka , Paris.
Awalnya toko buku ini berada di daerah Reu La Bucherie, dengan nama Le Mistral. Namun, akhirnya pada tahun 1964 pemuda asal Amerika itu mengganti namanya menjadi Shakespeare aand Company untuk menghormati Sylvia Beach yang telah meninggal, seperti toko buku yang buka sepuluh tahun lalu, yang melegenda karena nama seorang Hemingway dan teman-temannya, para Generasi yang hilang
Kini, setelah George Whitman meninggal di usianya yang ke 98 pada tanggal 14 December 2011, toko buku itu dikelola oleh anak perempuannya, Sylvia Beach Whitman. Seperti ayahnya, dia juga mengizinkan para penulis muda untuk merintis karier di toko buku mereka.
Toko buku bersejarah ini juga dengan rutin mengadakan acara-acara seperti pembacaan puisi, Sunday Tea, hingga pertemuan dengan para penulis. Juga dengan diadakannya Festival Literatur setiap dua tahun sekali, menjadi sebuah bentuk apresiasi dan komitmen pemiliknya untuk tetap fokus pada kegiatan membaca dan event-event yang berhubungan dengan literatur. Dan karena ketenarannya, toko buku ini juga dijadikan lokasi syuting untuk film layar lebar, seperti Before Sunset (2004) yang diperankan oleh Ethan Hawke dan Midnight in Paris (2011) yang diperankan oleh Owen Wilson. 

(Dari berbagai sumber)


Comments

Popular posts from this blog

Puisi : Manik-Manik Mawinei

Manik-Manik Mawinei Oleh : De-gaharu Matahari menyapa pagi Borneo Menyipit memandangi rupa Rupa dakukah ? Oh, apakah Ia bidadari, Tuhan ? Ya, bidadari khatulistiwa jarnya Melodi meramban di Kou Dari lantunan lagu yang kau senandungkan Dan sampek yang kau petik Hening damai suara liar Borneo Akan semakin sayup ketika melangkah jauh Tapi akar semakin mencengkram langkahku Benci bukan saja mendarah daging Beranak pinak Bahkah akar hingga buah menujuru padaku Kulepaskan dengan berat Kedua bola mata itu masih membekas Meninggalkan untaian kata tak terukir di genggamanku Kusebut ini manik-manik Mawinei Merah, kuning, hijau, biru

Essay : PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR

PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR

Oleh : De-Gaharu

Bagaimana gambaran realitas anak bangsa di negeri kita ? Tentu saja tidak semua anak muda melakukan tindakan yang meyimpang dari standar moral, banyak juga yang mengukir prestasi. Namun, berbagai media informasi baik elektronik maupun cetak sering menyiarkan berita negatif anak bangsa kita. Apa yang terjadi dengan generasi-generasi bangsa ini ? seperti yang diungkapan oleh Kak Hendri dalam bukunya (Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng, 2013:10) “Dimana peran dan pengaruh pendidikan sebagai jalan untuk menciptakan bangsa yang lebih bermartabat ? apa hal ini membuktikan bahwa pendidikan kita belum berhasil dalam mencetak generasi bangsa yang cerdas, kreatif, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ?. Bukankah ketika di sekolah mereka sudah menerima pelajaran tentang moral, pengetahuan umum, dan pengembangan diri ? lantas mengapa tidak bisa mereka terapkan di lingkungan sehari-hari ?. Ini menjadi PR bagi para pendidik bahka…

15 Hal Tentang Trip Ke Baduy Dalam