Skip to main content

Puisi : Manik-Manik Mawinei




Manik-Manik Mawinei
Oleh : De-gaharu
 
Matahari menyapa pagi Borneo
Menyipit memandangi rupa
Rupa dakukah ?
Oh, apakah Ia bidadari, Tuhan ?
Ya, bidadari khatulistiwa jarnya
Melodi meramban di Kou
Dari lantunan lagu yang kau senandungkan
Dan sampek yang kau petik
Hening damai suara liar Borneo
Akan semakin sayup ketika melangkah jauh
Tapi akar semakin mencengkram langkahku
Benci bukan saja mendarah daging
Beranak pinak
Bahkah akar hingga buah menujuru padaku
Kulepaskan dengan berat
Kedua bola mata itu masih membekas
 Meninggalkan untaian kata tak terukir di genggamanku
        Kusebut ini manik-manik Mawinei          
                                                                     Merah, kuning, hijau, biru
Lebih elok dari sakura-sakura
Percayalah
 Tanyakan pada sakura yang jatuh di tiap helai rambutmu
Suatu saat nanti, jika Tuhan masih mendetakanku
Dan Jika leluhurmu mengijinkanku kembali


















Comments

Popular posts from this blog

Essay : PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR

PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR Oleh : De-Gaharu   Bagaimana gambaran realitas anak bangsa di negeri kita ? Tentu saja tidak semua anak muda melakukan tindakan yang meyimpang dari standar moral, banyak juga yang mengukir prestasi. Namun, berbagai media informasi baik elektronik maupun cetak sering menyiarkan berita negatif anak bangsa kita. Apa yang terjadi dengan generasi-generasi bangsa ini ? seperti yang diungkapan oleh Kak Hendri dalam bukunya (Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng, 2013:10) “Dimana peran dan pengaruh pendidikan sebagai jalan untuk menciptakan bangsa yang lebih bermartabat ? apa hal ini membuktikan bahwa pendidikan kita belum berhasil dalam mencetak generasi bangsa yang cerdas, kreatif, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ?. Bukankah ketika di sekolah mereka sudah menerima pelajaran tentang moral, pengetahuan umum, dan pengembangan diri ? lantas mengapa tidak bisa mereka terapkan di lingkungan sehari-hari ?. Ini menjadi PR bagi pa

KITA NGGAK HARUS MONOKROM

KITA NGGAK HARUS MONOKROM  Jalani hidup apa adanya, ada banyak warna untuk kita pilih             Oke, kali ini aku mau cerita tentang kisah hidup aku yang nggak banyak orang tahu, karena memang belum pernah aku ceritakan di mana pun secara lengkap meskipun aku Social Media Addict, jadi ini adalah perdana. Kata orang, kalau dengar nama ‘Dega’ ya itu nama panggilan aku, selalu identik dengan warna-warni, nyeni banget, nyentrik, aneh, terlalu sok sibuk, suka belajar, dan sebagainya yang kedengaran hectic banget hahaha.  Ini yang aku rasain sebagai diri aku, aku suka warna-warni itu benar, art enthusiast banget, suka hal-hal yang membuat ceria that’s why aku suka warna kuning seperti bunga matahari. Bukan unsur kebetulan, jadi memang ini adalah jalan yang aku suka, jalan hidup apa adanya, tanpa syarat ketentuan dari orang lain. Maksud dari kalimat kita nggak harus monokrom di sini adalah monokrom itu berarti seragam, dan aku bukan tipe orang yang suka sama, karena me