Skip to main content

Sebuket Bunga yang Tragis



                Apakah kalian kaum hawa menyukai bunga ? ya hampir sebagian wanita menyukai bunga, aku tak tahu jika ada yang tidak suka. Bunga melambangkan keindahan, namun terkadang dibalik itu semua tersimpan rapi sebuah cerita. Sebuah cerita yang dari seorang wanita. Apa yang kalian, atau kamu yang sedang mendengarkanku berbicara saat ini, dia atau bahkan diriku sendiri rasakan ketika mendapatkan sebuket bunga ? senang, mengaharukan. Sebuket bunga dari seorang kekasih –makhluk-bernama-manusia- . Hingga kalian, kamu, atau dia lupa segalanya, dan membenarkan kebahagiaan hanya datang darinya, makhluk manusia itu ?.
                Siapakah yang bisa menjanjikan cinta akan terus tersambung seperti benang merah itu ? tidak dari kaum kita, manusia. Bagaimana jika sebuah ketulusan dibalas dengan lawan kata ? apa yang kalian, kamu, dia rasakan ? sebuah pengkhianatan ?. Itu hanyalah sebuket bunga yang mudah layu, sama layunya seperti apa yang dirasakan makhluk manusia itu, bagaimana dengan cinta dari Tuhan ? tak akan pernah layu, Tuhan selalu sayang umat-Nya. Apa yang terjadi kepada kalian, kamu, dia adalah takdir Tuhan yang paling baik. Tuhan sengaja mengirimkan orang-orang mengerikan untuk menguji kita, kepada siapa seharusnya pemilik rasa sayang yang besar itu.
                Setelah semua pengkhianatan tersebut, dia, sosok yang kuceritakan diatas, Tuhan telah menanti hari terakhirnya di dunia. Ia terbaring dengan tubuh tak berdaya, dengan dress berwarna cerah, namun tidak secerah hatinya lagi, sebuket bunga yang segar bertemu dengan warna merah yang sesungguhnya, darah wanita itu. Suara orang-orang yang berteriak di jalan itu kini lenyap bersama angin. Tinggallah kenangan-kenangan dunia bersama sebuket bunga tadi.
               




Comments

Popular posts from this blog

Puisi : Manik-Manik Mawinei

Manik-Manik Mawinei Oleh : De-gaharu Matahari menyapa pagi Borneo Menyipit memandangi rupa Rupa dakukah ? Oh, apakah Ia bidadari, Tuhan ? Ya, bidadari khatulistiwa jarnya Melodi meramban di Kou Dari lantunan lagu yang kau senandungkan Dan sampek yang kau petik Hening damai suara liar Borneo Akan semakin sayup ketika melangkah jauh Tapi akar semakin mencengkram langkahku Benci bukan saja mendarah daging Beranak pinak Bahkah akar hingga buah menujuru padaku Kulepaskan dengan berat Kedua bola mata itu masih membekas Meninggalkan untaian kata tak terukir di genggamanku Kusebut ini manik-manik Mawinei Merah, kuning, hijau, biru

Essay : PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR

PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR

Oleh : De-Gaharu

Bagaimana gambaran realitas anak bangsa di negeri kita ? Tentu saja tidak semua anak muda melakukan tindakan yang meyimpang dari standar moral, banyak juga yang mengukir prestasi. Namun, berbagai media informasi baik elektronik maupun cetak sering menyiarkan berita negatif anak bangsa kita. Apa yang terjadi dengan generasi-generasi bangsa ini ? seperti yang diungkapan oleh Kak Hendri dalam bukunya (Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng, 2013:10) “Dimana peran dan pengaruh pendidikan sebagai jalan untuk menciptakan bangsa yang lebih bermartabat ? apa hal ini membuktikan bahwa pendidikan kita belum berhasil dalam mencetak generasi bangsa yang cerdas, kreatif, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ?. Bukankah ketika di sekolah mereka sudah menerima pelajaran tentang moral, pengetahuan umum, dan pengembangan diri ? lantas mengapa tidak bisa mereka terapkan di lingkungan sehari-hari ?. Ini menjadi PR bagi para pendidik bahka…

15 Hal Tentang Trip Ke Baduy Dalam