Skip to main content

where is your dream ?

Dream


Ketika kamu mempunyai mimpi, kamu akan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya, entah bagaimana caranya. 

Ketika kamu menceritakan kepada orang lain tentang apa yang menjadi mimpimu ? apa yang mereka katakan ? apakah ini : "Di dunia ini banyak hal yang kita impikan, tapi tidak semua bisa kita capai, Jalani aja hidup dengan apa adanya, nggak usah muluk-muluk. Nggak usah dipikirkan."

Bagaimana orang lain bisa berkata hidup tidak perlu dipikirkan, sedangkan otak masih melekat di kepala kita. Tidak semua orang bisa memahamimu. Mereka hanya mengatakan apa yang telah turun temurun beredar di masyarakat tentang mimpi yang tidak mungkin menjadi nyata. Dan ketika itu kamu mungkin sedikit menyerah, kamu membenarkan perkataan mereka, padahal mereka belum tentu benar, juga belum tentu salah. Lantas apa yang harus kita lakukan dengan mimpi-mimpi kita ? dengan bintang harapan yang sinarnya semakin redup, dan pergi menjauh ?. Tanyalah pada dirimu sendiri, apa yang ingin lakukan dan apa yang harus kamu lakukan sekarang ?

Kembalilah kepada Tuhanmu, berdo'alah, karena Ia sangat mengetahui dirimu. 

Ketika kamu masih bingung harus membuang mimpi-mimpimu atau tetap bertekad mewujudkannya ? hanya satu jawaban, wujudkan ! sekarang bisa saja orang lain melihatnya tidak mungkin, tapi bagaimana di masa depan nanti ? apapun yang terjadi tetaplah belajar, belajar apa yang mampu membakar semangatmu. Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.If one day your dreams will come true, kamu sudah siap sedia dengan ilmu-ilmu yang telah kamu pelajari.

Apa kamu tau ? orang-orang yang mungkin dulu pernah meremehkan mimpimu, akan takjub dan berkata 'dia temanku' ketika tahu kamu telah berhasil.

Musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri.


De gaharu

Comments

Popular posts from this blog

Essay : PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR

PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR Oleh : De-Gaharu   Bagaimana gambaran realitas anak bangsa di negeri kita ? Tentu saja tidak semua anak muda melakukan tindakan yang meyimpang dari standar moral, banyak juga yang mengukir prestasi. Namun, berbagai media informasi baik elektronik maupun cetak sering menyiarkan berita negatif anak bangsa kita. Apa yang terjadi dengan generasi-generasi bangsa ini ? seperti yang diungkapan oleh Kak Hendri dalam bukunya (Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng, 2013:10) “Dimana peran dan pengaruh pendidikan sebagai jalan untuk menciptakan bangsa yang lebih bermartabat ? apa hal ini membuktikan bahwa pendidikan kita belum berhasil dalam mencetak generasi bangsa yang cerdas, kreatif, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ?. Bukankah ketika di sekolah mereka sudah menerima pelajaran tentang moral, pengetahuan umum, dan pengembangan diri ? lantas mengapa tidak bisa mereka terapkan di lingkungan sehari-hari ?. Ini menjadi PR bagi pa

KITA NGGAK HARUS MONOKROM

KITA NGGAK HARUS MONOKROM  Jalani hidup apa adanya, ada banyak warna untuk kita pilih             Oke, kali ini aku mau cerita tentang kisah hidup aku yang nggak banyak orang tahu, karena memang belum pernah aku ceritakan di mana pun secara lengkap meskipun aku Social Media Addict, jadi ini adalah perdana. Kata orang, kalau dengar nama ‘Dega’ ya itu nama panggilan aku, selalu identik dengan warna-warni, nyeni banget, nyentrik, aneh, terlalu sok sibuk, suka belajar, dan sebagainya yang kedengaran hectic banget hahaha.  Ini yang aku rasain sebagai diri aku, aku suka warna-warni itu benar, art enthusiast banget, suka hal-hal yang membuat ceria that’s why aku suka warna kuning seperti bunga matahari. Bukan unsur kebetulan, jadi memang ini adalah jalan yang aku suka, jalan hidup apa adanya, tanpa syarat ketentuan dari orang lain. Maksud dari kalimat kita nggak harus monokrom di sini adalah monokrom itu berarti seragam, dan aku bukan tipe orang yang suka sama, karena me

Puisi : Manik-Manik Mawinei

Manik-Manik Mawinei Oleh : De-gaharu   Matahari menyapa pagi Borneo Menyipit memandangi rupa Rupa dakukah ? Oh, apakah Ia bidadari, Tuhan ? Ya, bidadari khatulistiwa jarnya Melodi meramban di Kou Dari lantunan lagu yang kau senandungkan Dan sampek yang kau petik Hening damai suara liar Borneo Akan semakin sayup ketika melangkah jauh Tapi akar semakin mencengkram langkahku Benci bukan saja mendarah daging Beranak pinak Bahkah akar hingga buah menujuru padaku Kulepaskan dengan berat Kedua bola mata itu masih membekas   Meninggalkan untaian kata tak terukir di genggamanku         Kusebut ini manik-manik Mawinei                                                                                 Merah, kuning, hijau, biru Lebih elok dari sakura-sakura Percayalah   Tanyakan pada sakura yang jatuh di tiap helai rambutmu Suatu saat nanti, jika Tuhan masih mendetakanku Dan Jika leluhurmu mengijinkanku kembali