Skip to main content

Cara Mendapatkan Ide: Gaya Ekstrovert vs Introvert





Apakah kalian di kampus atau di kantor seorang ekstrovert yang aktif bersosialiasi atau seorang introvert yang senang menghabiskan waktu sendiri untuk berpikir dan berimajinasi?

Sebenarnya kurang tepat jika mengatakan kita seorang introvert atau ekstrovert, karena setiap orang pasti menjadi keduanya hanya saja saat tertentu salah satu dari kepribadian itu akan mendominasi. Kepribadian Introvert lebih banyakMe Time sedangkan ekstrovert lebih banyak Together Time.
Nah, dalam mencari inspirasi dan mendapatkan ide mereka berdua juga punya cara yang beda lho.

Ekstrovert

1- Nongkrong 
Seorang Ekstrovert lebih merasa senang dan bahagia nongkrong ketimbang duduk diam sendiri di rumah karena terasa hampa. Dengan berkumpul bersama orang lain, dia merasa rileks. Diskusi bersama teman-temannya membuat pikirannya tidak buntu lagi, segala ide cemerlang tiba-tiba bermunculan. 

2 - Mengajak Debat
Karena sifatnya ekstrovert yang enerjik dan aktif berbicara, maka jangan heran ketika ada teman sekomunitas atau sekantormu yang sering ngajakin debat untuk sebuah gagasan. Justru dari banyaknya pendapat lawan bicara mereka, walaupun dari awal tidak sepemikiran, pasti si Ekstrovert akan terus bertanya sampai ke akar hingga dapat alasan terbaik kenapa memilih ide tersebut. Terkadang dia akan mengkombinasikan beberapa pendapat menjadi sebuah bangunan baru yang lebih ok.

3 - Suka SKSD
Sok Kenal Sok Dekat – istilah lama yang masih cocok untuk tingkah si Ekstrovert ketika berkenalan dengan orang baru. mereka lebih terlihat aktif mengajak ngobrol, bertukar pikiran, dan ingin tau apa kegiatan lawan bicaranya. Tak jarang orang yang baru dia kenal tapi memiliki pemikiran yang sama maka bisa langsung diminta untuk jadi partner proyeknya loh! Lumayan kan.

Comments

Popular posts from this blog

Essay : PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR

PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR Oleh : De-Gaharu   Bagaimana gambaran realitas anak bangsa di negeri kita ? Tentu saja tidak semua anak muda melakukan tindakan yang meyimpang dari standar moral, banyak juga yang mengukir prestasi. Namun, berbagai media informasi baik elektronik maupun cetak sering menyiarkan berita negatif anak bangsa kita. Apa yang terjadi dengan generasi-generasi bangsa ini ? seperti yang diungkapan oleh Kak Hendri dalam bukunya (Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng, 2013:10) “Dimana peran dan pengaruh pendidikan sebagai jalan untuk menciptakan bangsa yang lebih bermartabat ? apa hal ini membuktikan bahwa pendidikan kita belum berhasil dalam mencetak generasi bangsa yang cerdas, kreatif, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ?. Bukankah ketika di sekolah mereka sudah menerima pelajaran tentang moral, pengetahuan umum, dan pengembangan diri ? lantas mengapa tidak bisa mereka terapkan di lingkungan sehari-hari ?. Ini menjadi PR bagi pa

KITA NGGAK HARUS MONOKROM

KITA NGGAK HARUS MONOKROM  Jalani hidup apa adanya, ada banyak warna untuk kita pilih             Oke, kali ini aku mau cerita tentang kisah hidup aku yang nggak banyak orang tahu, karena memang belum pernah aku ceritakan di mana pun secara lengkap meskipun aku Social Media Addict, jadi ini adalah perdana. Kata orang, kalau dengar nama ‘Dega’ ya itu nama panggilan aku, selalu identik dengan warna-warni, nyeni banget, nyentrik, aneh, terlalu sok sibuk, suka belajar, dan sebagainya yang kedengaran hectic banget hahaha.  Ini yang aku rasain sebagai diri aku, aku suka warna-warni itu benar, art enthusiast banget, suka hal-hal yang membuat ceria that’s why aku suka warna kuning seperti bunga matahari. Bukan unsur kebetulan, jadi memang ini adalah jalan yang aku suka, jalan hidup apa adanya, tanpa syarat ketentuan dari orang lain. Maksud dari kalimat kita nggak harus monokrom di sini adalah monokrom itu berarti seragam, dan aku bukan tipe orang yang suka sama, karena me

Puisi : Manik-Manik Mawinei

Manik-Manik Mawinei Oleh : De-gaharu   Matahari menyapa pagi Borneo Menyipit memandangi rupa Rupa dakukah ? Oh, apakah Ia bidadari, Tuhan ? Ya, bidadari khatulistiwa jarnya Melodi meramban di Kou Dari lantunan lagu yang kau senandungkan Dan sampek yang kau petik Hening damai suara liar Borneo Akan semakin sayup ketika melangkah jauh Tapi akar semakin mencengkram langkahku Benci bukan saja mendarah daging Beranak pinak Bahkah akar hingga buah menujuru padaku Kulepaskan dengan berat Kedua bola mata itu masih membekas   Meninggalkan untaian kata tak terukir di genggamanku         Kusebut ini manik-manik Mawinei                                                                                 Merah, kuning, hijau, biru Lebih elok dari sakura-sakura Percayalah   Tanyakan pada sakura yang jatuh di tiap helai rambutmu Suatu saat nanti, jika Tuhan masih mendetakanku Dan Jika leluhurmu mengijinkanku kembali