Skip to main content

JEJAK SEJARAH & KEKINIAN DI KALIMANTAN SELATAN

            Banjarbaru “kota yang hanyar dibangun” ujar sopir taxi ketika Dega berkunjung ke sana. Dulu waktu tahun 2013 ke Kalteng, cuma numpang lewat aja di Martapura, Banjarbaru, dan Banjarmasin. Nah untunglah tahun ini punya kesempatan liburan ke kota seribu sungai. Explore Kalimantan adalah sebuah kesenangan dan kebanggaan sendiri buat Dega. Kalau bisa semua kota di Indonesia kita jelajahi!

Dega berangkat dari Balikpapan dengan Bis Pulau Indah pada Hari Jum’at 23 Juni 2017 jam 06.00 sore. Jika hendak ke Banjar, dari Balikpapan harus melewati kapal feri dahulu ke penajam paser utara, barulah rute dilanjutkan ke Kalimantan Timur bagian selatan hingga memasuki daerah Kalimantan Selatan. Karena mengantri di pelabuhan Kariangau Balikpapan terlalu lama hingga adzan maghrib berkumandang, jadilah buka puasa di atas kapal. Ada sekitar 3 Bis dan beberapa mobil dan motor yang dimuat di dalam kapal feri. Kapal menyebrang sekitar hampir satu jam. Ketika pelabuhan Panajam sudah terlihat dekat, Dega buru-buru turun dan segera mau masuk ke dalam Bis supaya nggak terjepit sama semua penumpang yang bakal turun nanti. Sampai di bawah, sekejap diam mematung dan panik. Pertanyaan yang terlintas pertama adalah bagaimana melewati semua mobil yang jaraknya super mepet ini, dan yang kedua terlintas setelah ada bapak-bapak nanya :

“Mau ke mana, Neng?” 
“Ke bis, Pak.”
“Bis-nya yang mana?”
“Yah saya lupa lagi pak. Kayaknya yang ujung sana.” Ujar saya menunjuk Bis deretan kedua dari kanan kapal.
“Cek KT berapa.” KT (Kalimantan Timur) yang dimaksud orang-orang sini adalah plat kendaraan yang memang disingkat begitu, jadi kalau kalian main ke sini jangan bingung apa itu kepanjangan KT. Dan bapak-bapak itu kembali menaiki tangga menuju atas kapal. Dega pun jalan menyamping di sela-sela mobil dan menempel di Bis demi mengintip plat nomor Bis, asli sempit banget jalannya, untung aja buka puasa nggak terlalu banyak makan jadi badan muat jalan menyamping.
Kapal feri sudah sampai di pelabuhan seberang, Bis pun melanjutkan perjalanannya. Oh iya, sejauh apapun perjalanan kita, ibadah jangan terlewatkan khususnya yang beragama Islam, kalian bisa menjamak dan qashar sholat ketika masih di kapal feri, atau ketika Bis sedang singgah nanti.
Hari sudah benar-benar gelap, siap-siap untuk  tidur sepanjang perjalanan.
Awalnya sudah mau tidur, eh nggak tahunya Bis tersebut menyediakan fasilitas TV dan memutar film warkop DKI yang judulnya Setan Kredit. Si sopir dan para kenek tahu aja selera humor para penumpang, yang tadinya ngantuk malah nggak jadi tidur karena nonton film komedi sejuta umat dari berbagai generasi itu. Seru banget deh!
Namanya juga mata, pasti memiliki alarm alamiah sendiri untuk membuat rasa kantuk. Sekitar jam setengah dua belas malam gelak tawa penumpang sudah tidak terdengar, mereka mulai tertidur, tapi karena Dega termasuk makhluk “Nocturnal genetis” jadi belum waktunya tidur. Buat yang belum pernah ke Banjar jangan kaget kalau di perjalanan sekitar tengah malam Rute Bisnya mulai berkelok-kelok, karena kalian akan melewati daerah Gunung Rambutan, daerah hutan-hutan dan jalannya naik turun gunung. Rute ini bisa bikin kalian mabuk puyeng kalau memang si sopir Bis mengendarainya dengan laju dan tidak sabaran, makanya siapkan antimo jangan lupa! Jalan darat selain memakan waktu 12 jam lebih tapi juga tenaga. Kaki bakal pegal selama di bis.
Jam 02.00 pagi, Bis singgah di daerah Tanjung Tabalong (sepertinya) karena malam jadi Dega nggak bisa lihat tulisannya, mau ngecek GPS juga nggak ada sinyal. Di sana rame banget orang-orang singgah untuk makan. Karena lapar, Dega pun membeli nasi kuning. Baru ingat kalau sabtu adalah hari puasa terakhir, jadi sekalian aja sahur. Penting sekali buat teman-teman ingat kalau perjalanan jauh melalui darat adalah makanlah selagi punya kesempatan makan!
Setelah selesai makan dan semua penumpang juga sudah balik masuk ke dalam Bis, perjalanan pun dilanjutkan. Dega kurang hapal jalur-jalur yang ditempuh Bis dari Balikpapan ke Banjar, yang pasti sayup-sayup pas tidur subuh ada yang nyebut Brabai, Amuntai, Kandangan.
Akhirnya, jam 06.30 sudah memasuki kota Martapura. Selamat pagi Bumi Lambung Mangkurat! Siap-siap Bahasa Banjar. Penting banget buat kita semua kalau ngetrip ke kota orang alangkah baiknya bisa berbahasa daerah mereka, karena selain bisa basa-basi kalau belanja juga bisa dapat harga murah loh! tapi namanya pendatang logatnya memang nggak bisa dibohongi seperti Dega, suku sih Asli Kalimantan yakni campuran Banjar, Tidung, Dayak Kenyah tapi karena besar di Kota Balikpapan dimana notabene-nya tempat pendatang semua sehingga hilang logat urang Banjar. Tapi tenang, kosakata Bahasa Banjar masih ingat kok hihi.
Balik ke Kota Intan, julukkan untuk Kota Martapura. Wehew! pagi-pagi sudah disambut sinar matahari yang cantik banget menyelinap di antara kubah-kubah Masjid Al-Karomah, katanya ini masjid terbesar di Kalsel. Untuk sementara lewat aja, besok tepatnya hari Minggu, hari H lebaran baru deh kesini.




08.45 pagi, Welcome to Banjarmasin!
Sebenarnya Bis bisa aja berhenti di Banjarbaru, cuma karena nggak tahu jalan, dan cari aman, jadilah berhenti di terminal Banjarmasin. 
Dimana pun kita berada, selalu perhatikan barang bawaan! Yup, Si Sopir Bis mengingatkan untuk berhati-hati ketika turun dari Bis. Dega pun memegang erat barang-barang yang dibawa. Biasanya ketika sampai, begitu banyak tukang ojek, angkot, calo tiket menyerbu kita dengan banyak pertanyaan “handak kemana ikam?” (ingin kemana kamu?) bahkan ada yang sampai narik-narik mengangkat tas-tas kita. Berhati-hati! Pastikan ada keluarga yang jemput di terminal, kalau misalkan nggak ada jangan bingung ke mana kita mencari transportasi selanjutnya. Kalau kalian mau balik dalam waktu dekat dan masih suasana mudik, alangkah baiknya beli tiket pulang deh. Kalian cari aja counter resminya Pulau Indah, paling ujung sebelah kanan atau deretan tempat pembelian tiket pertama dari gerbang masuk terminal, papan reklamenya warna putih. Kalau ditanya-tanya sama paman (panggilan om / pak le tukang ojek, tukang angkot, penjual pentol dll) mau kemana, bilang aja sudah ada keluarga yang jemput, dan segeralah melipir ke tempat pembelian tiket yang Dega bilang tadi, yang jual si Julak (suami istri, Pak Haji dan Bu Hajjah). Jangan lupa ya, kalau di sana manggilnya jangan Mba, Bu, Pak, tapi Julak (untuk Bapak atau Ibu yang sekiranya lebih tua dari ortu kita), Acil (Tante), Paman (untuk Bapak yang sekiranya lebih muda dari Bapak kita), lebih bagus lagi bisa berbahasa dengan logat Banjar.
Akhirnya Dega dapat Taxi, karena kalau mau naik angkot yang nggak paham rutenya. Kalau Travelling sendirian sih nggak masalah sambung-menyambung naik angkot, karena bawa ortu jadinya kasihan kalau harus naik angkot. Dari Banjarmasin ke Banjarbaru memakan waktu satu jam, lama juga, dan biayanya Rp 150.000. Sepanjang jalan sopir taxinya bepander tarus (mengobrol terus).
            “Kenapa dinamai Banjarmasin Paman-ai?” (ai : tidak memiliki arti hanya penambahan kata)
            “Sejarahnya pang, dulu masih jaman kerajaan itu namanya Banjar aja, kada ada masinnya. Cuma ujarnya urang Banjar itu berani melawan musuh, melawan penjajah, Urang Banjar nih masin banarlah, jadilah sampai sekarang melekat kata Banjarmasin. Kalau Banjarbaru itu kota hanyar dibangun, masih belum padat penduduknya.” Ujar Si Sopir Taxi bercerita panjang lebar.
            Sesampai di penginapan langsung istirahat, kebetulan hujan juga Hari Sabtu itu, dan ternyata di Banjarbaru susah angkot! Ada angkot warna ijo tua tapi jarang.
            “Disini nunggu angkot macam nunggu jodoh,” kata seorang Mbak penjual nasi goreng. Buset dah si Mbak baper! Dan baru tahu juga ternyata kota Banjarbaru sepi banget atau memang kebetulan cuma daerah yang tempat Dega stay memang sepi.
            Minggu, 25 Juni 2017, Selamat hari lebaran, minal aidin wal faidzin.
            Seketika bingung nyari masjid terdekat dimana, mau nanya warga sekitar tapi kok nggak ada yang lewat jalan kaki, rumah-rumah, warung juga pada tutup. Tanpa pikir panjang ngecek HP buka google map, gileeee nggak ada masjid terdekat. Ketika dengar suara takbir, langsung bertanya ke pihak hotel masjid terdekat dimana, mereka bilang keluar dari hotel lalu berjalan ke  arah kiri. Malu bertanya sesat di jalan, nanya nggak jelas juga bikin sesat. Pertajam insting! Jalan kaki terus mengikuti suara takbir berkumandang dan memperhatikan motor-motor berlalu lalang yang sepertinya juga mau sholat Ied. Setelah jalan 1 km jauhnya kok nggak sampai-sampai ya, jalan lagi, pas mendongak ke atas liat papan petunjuk jalan, kalau lurus ke arah Martapura,  mulai panik karena ini sudah mau jam setengah 7. Akhirnya setelah sampai di pertigaan lampu merah, ketemu sebuah masjid.

Setelah sholat Ied, penjelajahan dimulai! Karena angkutan umum susah, jadinya ngetrip naik mobil keluarga. Yuk, kita telusuri tempat sejarah hingga kekinian di Kalsel

1.        Hutan Pinus Mentaos

Sejak beberapa bulan lalu, sudah searching tempat-tempat wisata keren di Banjarbaru, salah satunya tempat kekinian yang pas banget buat kita Si Hunter of Photography yakni Hutan Pinus Mentaos, yang terletak di Jl. Suriansyah Ujung Loktabat Utara, Banjarbaru.





Kece banget deh bisa foto di hutan ini! Feel excited! Lumayan bagusin feed instagram wkwk. Yang bikin beda dari hutan pinus daerah lain yaitu karena adanya payung berwarna-warni, lurus dari gerbang masuk warna payungnya senada ungu, biru, pink, putih, sedangkan di sisi kanan dan kiri hutan berwarna oranye dan merah, pas banget dilalui sinar matahari. Hutan ini ramai dikunjungi sejak Festival Pinus Merkusii yang diadakan Disporabupdar Banjarbaru.

2.     Makan di Taman Cahaya Bumi Selamat

Lebaran on the road, makannya di Taman Van Der Pijl & Cahaya Bumi Selamat, bawa rantang pula wkwk. Taman di tengah kota yang sama seperti taman lainnya di kota-kota lain, penampakkan aslinya ada yang berubah sedikit dari gambar-gambar yang tersebar di Mbah Google. Sebenarnya taman ini eye catching namun kurang perawatan sama seperti Taman Bekapai di Kota Balikpapan L ayo dong pemerintah renovasi lagi tamannya! Dan buat para pengunjung, tangannya jangan usil merusak fasilitas umum. 




3.            Masjid Agung Al- Karomah 
Dari pertama kali menginjakan kaki di Martapura, memang suka banget lihat arsitektur Masjid ini. Ketika baru sampai di halaman terasnya, Dega melewati batas suci! Saking excitednya sampai papan dengan tulisan “lepas sepatu, batas suci” aja nggak lihat. Waktu mau sholat, Dega hampir salah masuk! Awalnya sudah kelilingi masjid kok nggak nemu-nemu pintu masuk untuk perempuan ya, ternyata bangunan untuk kaum hawa yang mau sholat terpisah! Untung saja bertanya sama julak-julak yang di sana. Memang kok the power of tanya-tanya itu penting banget kemana pun kita pergi, biar gak salah dan tersesat. Karena berkunjung ke sini siang hari dan kebetulan such a bright day sungguh, panas sekali! Untunglah di luar pagar sekitar masjid banyak orang jualan, ada ice cream pula, lengkap sudah piknik hari itu. Dilansir dari berbagai sumber, katanya masjid ini sebuah perpaduan budaya Islam dan Hindu yang begitu kuat. Dibangun pada 1280 Hijriyah atau 1863 masehi. Merupakan masjid terbesar di Kalsel terletak di Jl. Ahmad Yani, jalan nasional atau jalan utama dari Kalsel ke Kaltim. Martapura tercatat menjadi saksi 12 sultan yang memerintah. Dulu berfungsi sebagai tempat peribadatan, dakwah islamiyah, integrasi umat islam, dan markas saat penjajahan Belanda. Dulunya masjid ini bernama Masjid Jami’ Martapura yang didirikan oleh panitia pembangunan masjid yaitu HM. Nasir, HM. Taher (Datu Kaya), HM. Apip (Datu Landak). Kepanitiaan ini didukung oleh Raden Tumenggung Kesuma Yuda dan Mufti HM Noor. Menurut sejarah, Datu Landak dipercaya untuk mencari kayu ulin sebagai Sokoguru masjid mencari kayu ulin ke daerah Barito, Kalteng. Kalau di Balikpapan sama Samarinda ini mungkin disebut Masjid Islamic Center.






  1. 4.         Masjid Raya Sabilal Muhtadin
Hal yang paling disuka saat berkunjung ke Banjar yakni banyak masjid-masjid besar dengan arsitektur megah nan amazing banget. Tapi seketika terdiam pas ingat bahwa suatu hari nanti kita akan berada di zaman dimana banyak masjid-masjid megah dibangun tapi kurang bahkan tidak ada jamaahnya, hih seram! langsung ingat kiamat, ingat mati. Nama masjid Sabilal Muhtadin ni diambil dari kotab fikih karangan seorang ulama besar almarhum Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjary. Almarhum berjasa dalam mengembangkan ajaran Islam di Kerajaan Banjar. Semasa hidupnya ulama ini tidak saja dikenal di seluruh Nusantara, akan tetapi dikenal dan dihormati di Malaka, Filipina, Bombai, Mekkah, Madinah, Istanbul, dan Mesir.
Lagi dan lagi Dega bingung pintu masuk ke dalam masjid untuk perempuan lewat mana, jadinya harus mengelilingi masjid yang luas itu. Semua pintu digembok, ternyata pintu yang dibuka nggak jauh dari akses masuk sebelah kiri masjid yang sebenarnya sudah Dega lewati tadi. Interior di dalam masjid nggak kalah megahnya, sayangnya Dega waktu mau sholat nggak bawa HP jadi nggak sempat foto. Masjid ini diresmikan oleh mantan presiden RI Soeharto pada Senin 9 Februari 1981.





            5.        Desa Kelampaian / Kalampayan / Pelampaian
          
                          Tempat kelima yang dikunjungi adalah Kelampaian / Kalampayan kalau di Google Maps, tapi yang tertulis di papan jalannya ‘Desa Pelampaian Ulu’ intinya begitu deh, sama. Desa ini berada di Martapura tepatnya di kecamatan Astambul. Untung niatan jalan kaki ke sini batal, karena ternyata jalan masuknya jauh banget, benar-benar jauh. Kalau di Balikpapan mirip akses masuk daerah kilo. Di tempat ini para pengunjung akan berziarah ke makam para datuk (dalam Bahasa Banjar) / ulama Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjary tadi dan makam guru sekumpul. Ada yang unik dari tempat wisata ini, nanti waktu kalian sampai selain para wisatawan yang bisa ribuan dari seluruh kota di Indonesia, bahkan dari Malaysia, Brunei juga ada, banyak Julak-julak dan Acil-acil menawarkan kembang-kembang ziarah yang sudah dianyam cantik. Belilah sesuai kebutuhan kalian, yang sabar kalau dipaksa harus beli kembang, jangan marah-marah cukup bilang “Sudah Cil ai, sudah cukup ini hehe” terus kalau ada yang tabur bunga ke kalian jangan diambil ya wkwk kata Acil saya nanti kalian disuruh bayar, kalau ke Banjar memang harus siap budget ya Traveller hehe. Kalau sudah memasuki gerbang, panjatkan doa yang ingin kalian pinta kepada datuk Kalampayan, oke Dega lurusin ya maksud dari kalimat orang-orang di sini, jadi sebenarnya kita buka meminta doa kepada para Datuk / Wali / Ulama yang sudah beristirahat tenang di sini, tapi cara berdoanya tetap kepada Tuhan kita yang Esa yaitu Allah SWT, yang dikatakan orang-orang doanya akan dikabulkan itu karena berdoa melalui pada Datuk / Wali di sini. Nanti kalian akan melewati rumah warga di samping kanan kirinya ada padi, nah setelah sampai ke makam yang dituju kalian harus membayar uang infaq, disana banyak paman-paman yang menyambut kalian, nanti kalian dipandu cara berdoa di makam, makamnya terletak di dalam bangunan, mungkin tujuannya supaya terawat. Banjar memang identik dengan kain kuning, jadi di pagar makam terentang kain kuning. Penting untuk diingat! Terserah kalian percaya atau tidak dengan berdoa kepada makam, semua kembali lagi ke niat kita, kita tidak menyembah yang lain selain Allah, di sini kita hanya memanjatkan doa  melalui para Datuk, tapi memang dari cara memandu para paman tadi yang menyuruh tangan kita menyentuh pagar makam saat berdoa sekaan kita meyembah makam, tradisi ini mirip ziarah ke makam sapi keramat di Tarakan, dimana pun kalian berada hormatilah tradisi setempat, jangan ngomong sembarangan, turuti saja apa kata orang-orang setempat intinya niat dalam hati kita bersih ya guys. Btw ini kebetulan atau nggak, Dega memang kurang percaya soal begituan, tapi mulut keceplosan ngedumel nggak jelas, akhirnya pulang dari sana gatal-gatal L mohon jangan ditiru! Jaga mulut!. Intinya tempat-tempat wisata di Kalimantan Selatan ini kental banget sama unsur Islam, suka deh!




1.                 6.          Patung Bekantan
Tahu hewan bekantan kan? Maskotnya urang Banjarmasin. Nah ada ikon baru nih di tengah kota, Patung Bekantan! Patung senilai Rp 2,6 miliar ini dibuat oleh Pemerintahan Banjarmasin dan terletak di siring tepi Sungai Martapura di Jalan Kapten Pierre Tendean. Tinggi patung sepertinya lebih dari 6 m. Bagi kamu si penggila foto dan lagi ke Banjarmasin, wajib foto di sini! Patung dengan tanan kanan menggaruk kepala dan tangan kiri memegang buah rambai ini diharapkan mampu menarik lebih wisatawan, dan ternyata memang terbukti. Mau foto di sini aja kudu ngantri gantian sama pengunjung lain.





Sekian mini journal of journey selama di Kalimantan Selatan, berharapnya banget bisa ke daerah Danau seran, Riam Kanan, tapi apalah daya begitu jauh wkwk. Next trip semoga bisa explore Kalsel lagi, bahkan ke provinsi Kalimantan Barat yang sama sekali belum pernah dijelajahi.











Comments

Popular posts from this blog

SANGGAR SUDAH PEKA BUMIKU MENANGIS, KITA ?

Puisi : Manik-Manik Mawinei

Manik-Manik Mawinei Oleh : De-gaharu Matahari menyapa pagi Borneo Menyipit memandangi rupa Rupa dakukah ? Oh, apakah Ia bidadari, Tuhan ? Ya, bidadari khatulistiwa jarnya Melodi meramban di Kou Dari lantunan lagu yang kau senandungkan Dan sampek yang kau petik Hening damai suara liar Borneo Akan semakin sayup ketika melangkah jauh Tapi akar semakin mencengkram langkahku Benci bukan saja mendarah daging Beranak pinak Bahkah akar hingga buah menujuru padaku Kulepaskan dengan berat Kedua bola mata itu masih membekas Meninggalkan untaian kata tak terukir di genggamanku Kusebut ini manik-manik Mawinei Merah, kuning, hijau, biru

Essay : PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR

PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR

Oleh : De-Gaharu

Bagaimana gambaran realitas anak bangsa di negeri kita ? Tentu saja tidak semua anak muda melakukan tindakan yang meyimpang dari standar moral, banyak juga yang mengukir prestasi. Namun, berbagai media informasi baik elektronik maupun cetak sering menyiarkan berita negatif anak bangsa kita. Apa yang terjadi dengan generasi-generasi bangsa ini ? seperti yang diungkapan oleh Kak Hendri dalam bukunya (Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng, 2013:10) “Dimana peran dan pengaruh pendidikan sebagai jalan untuk menciptakan bangsa yang lebih bermartabat ? apa hal ini membuktikan bahwa pendidikan kita belum berhasil dalam mencetak generasi bangsa yang cerdas, kreatif, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ?. Bukankah ketika di sekolah mereka sudah menerima pelajaran tentang moral, pengetahuan umum, dan pengembangan diri ? lantas mengapa tidak bisa mereka terapkan di lingkungan sehari-hari ?. Ini menjadi PR bagi para pendidik bahka…