Skip to main content

MY BIGGEST LESSONS LEARNED IN 2018

MY BIGGEST LESSONS LEARNED IN 2018



Welcome to 2019! Yay! Ini adalah blog pertama gua di tahun ini, gua mau share tentang My Biggest Lessons Learned In 2018 kemaren, ini semacam jurnal harian, kali aja kalian juga merasakan hal yang sama kayak gua hihi. Judul tulisan kali ini sama seperti judul Anna Runyan, founder @Classycareergirl (Instagram) salah satu akun favorit yang selalu bagiin tips-tips kece buat wanita karir. Oke mari kita flashback from January.

Januari ini masa sulit ampun-ampun buat gua pribadi, bukan soal menyelesaikan skripsi dan maju seminar, tapi menghadapi pacar (*read:mantan). So, I wanna talk to the girlsss, One of the biggest lesson I had :

1.

“kalau lo punya pacar posesif yang bisa melakukan kekerasan verbal, kekerasan verbal ini seperti berbentuk ucapan, lo harus STOP IT! Sayangi kesehatan mental anda wahai girls. Lo terlahir untuk bebas, nggak ada yang boleh membatasi ruang gerak pertemanan dan kreativitas lo selama itu masih positif.”


Di Januari – Februari, gua tengah menyelesaikan seminar, revisi-revisi-revisi, sidang. Sampai akhirnya wisuda bulan November, itu adalah pencapaian terbesar dalam hidup gua dan emak. Why? Karena di tahun 2014 nggak yakin bisa kuliah apa nggak, hanya menjalankan hidup dengan percaya Keajaiban Yang Maha Kuasa.

2.

“Jangan takutkan hari esok, Tuhan sudah menyiapkan segala hal baik untukmu.”


Selama sedang menyelesaikan masa kuliah, gua mulai kembali berpikir tentang nasib passion. Gua benar-benar jenuh dengan semuanya, sedikit sih. Jadi ketika lulus SMP gua punya cita-cita masuk smk farmasi biar bisa jadi apoteker atau apapun profesi yang berkaitan IPA, kalaupun tidak bisa ya sudah bidang seni saja. Ternyata hidup itu nggak semulus jalan tol. Sejak masuk SMK Akuntansi hingga kuliah ekonomi, gua mulai berpikir lagi gimana cara bisa live with my passion. Akhirnya di bulan Februari 2018 gua mempersiapkan diri untuk keluar dari zona nyaman dengan mulai apply kerjaan bidang Illustrator di luar kota meskipun bermodal job seni kecil-kecilan di tahun 2017 wkwk nekatnya terlalu gila. Lowker pertama yang gua temukan ada di Kota Malang, oke apply. Kebetulan waktu itu juga sudah resign dari kantor lama. Terus mencari dan mencari, sampai gua lelah sendiri, jenuh dengan idup (sedikit), gua sempat putus asa dan berpikir, oke mungkin di IPA gua gagal dan sekarang di bidang seni juga gagal, mungkin bukan takdir gua juga. Doa di bidang seni ini sudah gua panjatkan pada Tuhan sejak 5 tahun lalu yakni 2013. Jadi waktu itu kelas 2 SMK, seorang teman bernama Rizka ngajarin gua untuk nulis 100 mimpi kamu di kertas, lihat apa yang terjadi setelah 5 tahun kemudian. Pelajaran hidupnya adalah


3.

“Tuhan akan mengabulkan doa-doa kita di waktu yang tepat.”

Ada sekitar 20 perusahaan kreatif gua apply Jakarta, Bandung, Jogja, Malang, tapi mungkin karena riwayat pendidikan gua bukan seni, ya bye bye gitu aja (sedih akutuh hahaha) dan setelah dua bulan kemudian gua dapat kabar dari Jakarta untuk tes ilustrasi demi ilustrasi proses ini memakan waktu sebulanan. Gua langsung bilang ke emak, dan emak syok. Yang luar biasa, emak gua yang sejak 4 tahun lalu nolak gua berkecimpung di dunia seni, akhirnya memutuskan untuk mengizinkan gua menjalani apa yang dicita-citakan. 

4.

“Orang tua itu bukan tidak mendukung cita-cita anaknya, hanya saja belum yakin apakah kita bisa bertahan sampai di titik yang kita mau meski sangat lelah. So, lo harus membuktikannya dan minta doa ortu.”

Perjalanan selanjutnya dimulai dari Juli 2018 awal mula gua merantau ke Jakarta, dulu tahun 2015 waktu masih tugas kantor Bekasi – Jakarta gua pernah berkata gak akan mau tinggal di Jakarta, nggak akan pernah hahaha sekalinya menelan ludah sendiri, ya ampun.

5.

“Hidup itu jangan terlalu keras pada diri sendiri, milikilah banyak stok mimpi. Jadi kalau gagal satu tumbuh seribu.”

Oke gua  mulai menceritakan sedikit saja tentang Jakarta ya jangan banyak-banyak hahaha. Selama ini gua sering dapat dm dari teman-teman yang bilang ‘De, hidup lo senang banget sekarang’. Ketahuilah para netizen, tidak ada hidup yang senang-senang aja T_T air mata gua udah kering kali ya ngadepin Jakarta, gua upload di media sosial hanya sebatas event-event seni dan sastra, kenapa? karena kalau susah senang diupload juga takutnya menyebarkan negative vibes

6.

“Ketahuilah para netizen maha tahu, tempat terbaik untuk pulang itu hanya satu : Rumah. Sekeren apapun kota rantauan, tetap kampuang halaman terbaik.”


7.

“Kalau kata gua kalau lo ingin merantau, lo harus punya alasan atau tekad yang kuat semisal sekolah, mengejar mimpi, pekerjaan kemanusiaan. Kalau hanya sekadar ingin jauh dari rumah, nanti ketika lo lelah, nggak ada alasan yang kuat untuk tetap bertahan.”

Gua amat bersyukur atas kehidupan di Jakarta, kenapa? gua punya banyak teman yang Alhamdulillah luar biasa. Gua punya sedikit masalah pertemanan semasa kuliah, dan ternyata Tuhan mengganti semuanya di tahun 2018. 

8.

“Ketika ada yang  hilang dalam hidup lo, yakinlah Tuhan akan menggantinya dengan lebih baik.”


Dan setelah melakukan perenungan, gua menemukan sesuatu dalam hidup ini yang ternyata awal mula mengubah semuanya. Apa itu?

9.

“Salah jurusan bukan berarti salah masa depan.”

Jadi ternyata ini adalah cara Tuhan membenarkan pepatah ‘banyak jalan menuju Roma’ berkat jurusan Manajemen apalagi Manajemen Marketinglah yang memberikan jalan berkarir di bidang seni. Dari Marketing, gua tahu apa itu personal branding dll.

10.

“Kalau ada yang bilang pelajaran di kuliahan itu nggak ada kaitannya di dunia kerja, positive thinking aja, mungkin dia ketiduran di kelas. Semuanya akan ada masanya bermanfaat.”



Comments

Popular posts from this blog

Puisi : Manik-Manik Mawinei

Manik-Manik Mawinei Oleh : De-gaharu Matahari menyapa pagi Borneo Menyipit memandangi rupa Rupa dakukah ? Oh, apakah Ia bidadari, Tuhan ? Ya, bidadari khatulistiwa jarnya Melodi meramban di Kou Dari lantunan lagu yang kau senandungkan Dan sampek yang kau petik Hening damai suara liar Borneo Akan semakin sayup ketika melangkah jauh Tapi akar semakin mencengkram langkahku Benci bukan saja mendarah daging Beranak pinak Bahkah akar hingga buah menujuru padaku Kulepaskan dengan berat Kedua bola mata itu masih membekas Meninggalkan untaian kata tak terukir di genggamanku Kusebut ini manik-manik Mawinei Merah, kuning, hijau, biru

SANGGAR SUDAH PEKA BUMIKU MENANGIS, KITA ?

Essay : PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR

PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR

Oleh : De-Gaharu

Bagaimana gambaran realitas anak bangsa di negeri kita ? Tentu saja tidak semua anak muda melakukan tindakan yang meyimpang dari standar moral, banyak juga yang mengukir prestasi. Namun, berbagai media informasi baik elektronik maupun cetak sering menyiarkan berita negatif anak bangsa kita. Apa yang terjadi dengan generasi-generasi bangsa ini ? seperti yang diungkapan oleh Kak Hendri dalam bukunya (Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng, 2013:10) “Dimana peran dan pengaruh pendidikan sebagai jalan untuk menciptakan bangsa yang lebih bermartabat ? apa hal ini membuktikan bahwa pendidikan kita belum berhasil dalam mencetak generasi bangsa yang cerdas, kreatif, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ?. Bukankah ketika di sekolah mereka sudah menerima pelajaran tentang moral, pengetahuan umum, dan pengembangan diri ? lantas mengapa tidak bisa mereka terapkan di lingkungan sehari-hari ?. Ini menjadi PR bagi para pendidik bahka…