Skip to main content

BODOH : HAK, RESPON, STIGMA





 
            Dilihat dari tema pameran Hiatus yang diselenggarakan oleh UGM pada akhir 2019 lalu yakni “STIGMA : UNCOVERING PERSPECTIVE” muncul dari fenomena sosial tentang label apa saja yang pernah menempel pada diri perupa. Stigma adalah hal yang terjadi di satu waktu, tapi efeknya bisa berkepanjangan, bertahun-tahun. Stigma jelas menghambat seseorang untuk mengekspresikan dirinya. Stigma yang terkait dengan keberagamaan bisa bercerita tentang suku, ras, profesi, kepribadian. Namun sadarkah kita? Menghargai keberagamaan dari yang sederhana adalah menghargai keberagamaan pengetahuan yang kita punya. Pengetahuan antar orang yang satu tidak sama dengan yang lainnya. Dalam proses mendapatkan pengetahuan itu terjadi yang namanya bertanya dan menjawab.
            Dalam hal ini yang saya angkat adalah stigma “bodoh” terjadi pada orang yang tidak tahu apa yang kita tahu. Bodoh merupakan kata yang biasa diucapkan untuk mereka yang lemah dalam intelektual dan lamban mengerti Benarkah di dunia ini hanya ada orang pintar dan orang bodoh? Apakah saat ini kamu merasa pintar? Jika iya, percayakah kamu kalau semenit kemudian kamu bisa menjadi bodoh? 
            “Bagaimana kita bisa membangun tradisi intelektual kalau bertanya saja malu dan takut?” tulis Eka Kurniawan pada Blog pribadinya. Betul sekali, bahwa kita sepakat dengan pepatah “Malu bertanya sesat di jalan.” Tapi realitanya dalam interaksi sosial baik pertemanan, pembelajaran di kelas, kampus, kantor, yang dihadapi penanya seringkali ditertawakan. Terdengar sepele, tapi itu membunuh kepercayaan diri si penanya. 



            Saya punya pengalaman ketika TK selalu mendapat nilai 0 di semua pelajaran, dan suatu ketika ambil nilai pragawati kartini saya tidak mau, karena saya tidak tahu bagaimana cara berjalannya. Detik itu juga guru saya marah besar dan berkata “Semua pelajaran kamu tidak tahu, kamu itu bodoh, nggak akan bisa jadi apa-apa nantinya.” Saya pikir efek itu hanya ketika TK saja, namun dalam proses belajar jenjang pendidikan berikut-berikutnya yang kebetulan ketika SMP saya berada pada kelompok yang ketika kita bertanya karena tidak tahu, kita akan dicap bodoh. Akhirnya berimbas pada ketidakpercayaan diri bertanya saat guru menjelaskan.
Di luar sana banyak sekali yang mengalami kejadian seperti saya. Tidak hanya dalam pertemanan, antar pengajar dan pelajar atau mahasiswa juga seringkali terjadi, contoh pada umumnya ketika kita semester akhir, sudah begitu banyak mata kuliah yang harus kita kuasai, sewaktu dosen bertanya mata kuliah semester awal dan karena lupa, kita katakan tidak tahu, terkadang dosen merespon “kalian ini sudah semester akhir, masa pertanyaan sesimpel ini tidak tahu, jangan terlalu bodoh jadi mahasiswa.”





Ingatan-ingatan kolektif masuk kealam bawah sadar kita, sehingga kita punya respon “tidak tahu sama dengan bodoh”. Sebenarnya dalam bertanya bukan tentang bodoh dan pintar, yang ada hanyalah tahu dan tidak tahu. Orang bertanya karena tidak tahu, bukan berarti bodoh. Barangkali yang dia tahu kamu juga tidak tahu. Bayangkan jika kamu adalah si penanya dan ditertawakan. Apa yang kamu rasakan? Responlah ketidaktahuan orang lain, bukan kebodohannya. Jangan mentertawai apapun bentuk pertanyaan dan gagasan orang lain.
Kebanyakan orang tidak ingin dikatakan bodoh, termasuk saya. Saya pernah menolak untuk bertanya karena tidak ingin dikatakan tidak tahu. Sekarang yang ingin saya hindari adalah ketidakmampuan saya untuk menerima hal baru, karena saya sangat menyadari butuh kerelaan ekstra untuk dikatakan bodoh. (Bagas Candrakanta via kompasiana).











Comments

Popular posts from this blog

Essay : PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR

PENTINGNYA SENI DALAM PSIKOLOGI BELAJAR Oleh : De-Gaharu   Bagaimana gambaran realitas anak bangsa di negeri kita ? Tentu saja tidak semua anak muda melakukan tindakan yang meyimpang dari standar moral, banyak juga yang mengukir prestasi. Namun, berbagai media informasi baik elektronik maupun cetak sering menyiarkan berita negatif anak bangsa kita. Apa yang terjadi dengan generasi-generasi bangsa ini ? seperti yang diungkapan oleh Kak Hendri dalam bukunya (Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng, 2013:10) “Dimana peran dan pengaruh pendidikan sebagai jalan untuk menciptakan bangsa yang lebih bermartabat ? apa hal ini membuktikan bahwa pendidikan kita belum berhasil dalam mencetak generasi bangsa yang cerdas, kreatif, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ?. Bukankah ketika di sekolah mereka sudah menerima pelajaran tentang moral, pengetahuan umum, dan pengembangan diri ? lantas mengapa tidak bisa mereka terapkan di lingkungan sehari-hari ?. Ini menjadi PR bagi pa

Film-film ini Mengubah Cara Aku Memandang Dunia

Manusia adalah makhluk yang menebang hutan sembarangan dan juga yang menuliskan kalimat “Save our forest” pada sebuah kertas. Seakan sebuah slogan, poster, atau kampanye alam apapun tidak berpengaruh. Sepertinya untuk mengubah cara memandang sebuah permasalahan klasik di dunia terkadang dibutuhkan cara penyampaian yang fresh; menarik tapi memiliki makna yang dalam. Itulah yang menjadi dasar pemikiran kreatif pembuatan sebuah film animasi 3D berjudul The Lorax. Chris Renaud dan Kyle Balda mengangkat film ini dari sebuah buku cerita anak-anak karangan Dr.Seuss, menceritakan sebuah kota plastik yang dulunya adalah alam dengan pepohonan yang indah namun hancur akibat keserakahan manusia menebang pohon demi memproduksi semacam kain yang lebih lembut dari sutera dan memiliki banyak fungsi. Film ini mengajarkan kita untuk berkreasi tidak perlu merusak alam. Contoh sebuah perusahaan sangat penting untuk mengolah limbahnya agar tidak mencemari alam. Alam adalah karya seni terindah dari

Kenapa Otak Bisa Mengirimkan Sinyal Nyontek ?

       Menyontek adalah kegiatan meng-copy paste sebagian atau keseluruhan hasil kerja orang lain. Siapa orang di dunia ini yang nggak menyontek ? yang bisa jawab silahkan komen ke penulis. Penulis sendiri pun pernah menyontek, wajar manusia biasa. Yang akan penulis bahas dalam tulisan kali ini, Kenapa otak bisa mengirimkan sinyal nyontek kepada Indera penglihatan, pendengaran, mulut, anggota gerak tubuh ?. Sebelum membahas itu, ada pertanyaan penting yang harus kalian jawab : Apa yang kalian peroleh dari nyontek ? pertama jelas nilai lulus Alhamdulillah walaupun pas-pasan, kedua mendapat nilai paling tinggi. Nah tadi berbicara apa yang kita peroleh sekarang kita mundur sedikit ke belakang, mengapa kita mau menyontek ?. well, nggak ada yang aneh dengan menyontek, dalam dunia bisnis pun pasti terjadi proses pencontekkan, kalau nggak ada proses tersebut nggak ada yang namanya pesaing (kompetitor), dan nggak ada yang namanya inovasi. Dalam penulisan makalah, jurnal, bahkan skripsi tentu