Rumah Beraroma Kue





Hari Sabtu
Menjelang senja di hari minggu saat itu aku melihat seorang wanita berumur sekitar lima puluh tahun duduk di ambang pintu rumahnya. Ia sedang bersantai menikmati cahaya mentari yang menggantung rendah di langit. Semburat cahaya yang syahdu menghampiri wajahnya yang kian menua.
Aku menghampirinya, menyapa dan duduk di sampingnya. Aku mengenal wanita itu dan orang-orang yang tinggal di rumahnya. Rumah mereka dihuni banyak orang, ya sekitar enam orang. Tapi rumah itu tidak ramai, selalu terlihat sepi bahkan ketika akhir pekan. Rumahnya selalu beraroma kue, aku suka.
“Rasanya sepi sekali ya,” katanya.
“Kemana mereka, Bu?”
“Seperti biasa, waktunya bermain dan terkadang tidak pulang di akhir pekan. Rindu sekali saat mereka masih kecil. Saat masih berdua, abang dan adiknya selalu duduk di bangku teras itu setelah mandi di sore hari. Makan kue dan cerita bagaimana hari mereka selama seminggu.”
Aku terus mendengarkan dan tidak tahu ingin berkata apa. Matanya berkaca-kaca. Aku berusaha untuk tidak larut dalam suasana ini.
Setelah bergeming beberapa saat, wanita itu bertanya, “mau teh, mbak?”
“Oh, tidak usah repot-repot, Bu. Sudah tadi di rumah, terima kasih.”
Tatapannya lurus ke depan, pikiran wanita itu mungkin sedang lari menjelajahi waktu, menggali kembali ingatan yang tersimpan rapi.
Semenit kemudian, anak laki-lakinya pulang dengan motor gedenya. Kami berdiri setelah duduk di depan pintu. Aku lantas pamit untuk pulang.
“Bu, aku mau nginap tempat teman ya.” Ibunya belum sempat menjawab, anak laki-laki itu langsung masuk setelah membuka sepatu. Ia bergegas mengambil ransel dan bajunya.
***
   Ketika matahari pagi sudah menggantikan sang bulan, wanita itu selalu membawa keranjang belanjaannya ke pasar, membeli kebutuhan selama seminggu. Suatu pagi sekitar dua bulan lalu ia berjalan seorang diri di sisi jalan gang yang sempit. Langkahnya gontai meski keranjang belanjaannya tidak teralu berat, ia selalu berkata meskipun sedang sakit, anak-anaknya harus tetap membawa makan siang darinya. Ia tidak ingin anak-anaknya sakit.
***
        Saat siang hari, saat aku sedang bekerja, aku melihat wanita itu di jendela seberang sana sedang menjahit. Tangannya sangat terampil. Ia sering menjahit dress wanita, jelas karena ia memiliki dua orang anak perempuan. Aku harap wanita itu selalu sehat dan bahagia.
***
            Hari ini, dunia benar-benar kacau. Ah tidak, itu kalimat yang terlalu berlebihan kurasa. Bumi hanya ingin beristirahat sejenak dari tangan-tangan manusia yang serakah. Alam ingin mendengarkan melodinya dengan damai, itu saja. Hari ini semua orang berada di rumah, hanya segelintir orang yang berada di luar rumah. Bumi sedang sakit, pun dengan seisinya. Maka rumah adalah tempat paling nyaman untuk berdiam diri.
            Dari seberang jendela, aku melihat rumah itu kembali ramai. Mereka semua lengkap berenam. Terdengar gelak tawa dan beberapa kali musik terputar.
            Hari ini aku juga mendapat kiriman setoples kue kering putri salju dari rumah seberang itu. Taburan gulanya benar-benar halus dan manisnya pas, aku suka sekali.
***
    Ada yang jauh dari rumah karena keharusan, ada yang jauh dari rumah karena ingin bebas, ada pula yang jauh dari rumah karena ia belum mengenal arti sebenarnya dari rumah. Tanpa kita sadari, di sela-sela tidur kita yang nyenyak, mungkin doa orang tua kita selalu menyelimuti kita di sepertiga malam mereka.Teruntuk kamu yang bisa #dirumahaja dengan keluarga, berbahagialah, tidak perlu bosan karena tidak bertemu teman-temanmu, mungkin ini saatnya mengulang momen saat kamu masih kecil dulu.

Comments